Posted by: daeng | June 20, 2009

(bugis) KAWALI

Kawali (Badik) adalah senjata penikam tradisional khas bangsa bugis. Orang bugis sendiri menyebutnya dengan beberapa nama, seperti tappi (yang diselip), gajang( penikam), dan kebanyakan disebut kawali. Seperti Kawali Raja (Bone) & kawali Rankong (Luwu). Ada juga yang dinamai gecong. Terbuat dari daun nipah (Nypa fruticans). Oleh empu-pembuat keris zaman dahulu yang terkenal sakti, daun nipah diurut sembari mengiringinya dengan zikir setiap urutan hingga daun nipah mengeras seperti besi. Bentuknya tipis & wangi. Badik jenis ini paling langka, sekarang tak ada lagi pembuat badik yang mampu membuatnya. Badik ini umumnya hanya dimiliki oleh raja-raja.beserta anak turunannya.

Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing.                        Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian-bagian: pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung).. Dalam masyarakat Sulawesi Selatan dikenal dua jenis badik: badik saroso dan badik pateha. Badik saroso dibuat dengan bahan pamor, diberi kayu berukir serta sarung yang berlapis perak; sementara badik pateha dibuat dengan bentuk yang sederhana, terkadang tidak berpamor dan sarungnya terbuat dari kulit atau kayu biasa.

Badik sejati terbuat dari batu meteor. Empu pembuat badik bukanlah pembentuk pamor, sebab aura pamor akan muncul sendiri pasca penempaan. Pamor inilah yang konon menimbulkan efek magis  pada badik. Badik yang bagus adalah badik yang memiliki koneksi yang intim dengan pemiliknya. Semacama persenyawaan. Makanya, badik tidak pernah diperjualbelikan, hanya diwariskan. Karena akan menimbulkan bencana bagi mereka yang memilikinya tanpa koneksi bathiniah. Proses pembuatan kawali berlangsung dalam suatu suasana ritual. Kawali yang dibuat tanpa upacara ritual, maka kawali itu pamornya sama saja dengan pisau biasa. Pembuatan sebilah kawali umumnya selesai dalam tujuh hari. Namun, karena pembuatannya hanya dilakukan pada hari Jumat, maka satu kawali dengan pamor yang diharapkan akan selesai dalam tujuh hari Jumat berarti membutuhkan waktu 49 hari. Selama berlangsungnya pembuatan kawali, empu pembuat kawali terus-menerus berzikir. Tanpa zikir, biasanya pamor yang muncul dari badik yang dibuat membawa masalah sehingga pemiliknya justru tertikam, atau usahanya gagal, atau selalu sakit-sakitan.

Ada beberapa jenis badik berdasarkan kegunaan dari efek magisnya, contohnya badik jenis toasi yang berfungsi untuk menolak marabahaya bagi pemiliknya. Jenis sambang yang bisa menolak bahaya binatang buas. Selain itu, ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso, yang memiliki nilai sejarah. Ada juga sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk. Untuk menguji karakter sebuah kawali, ialah dengan cara memegang bagian ujungnya dengan ujung jari. Bila terasa sejuk, itulah badik untuk perdamaian dan kesejahteraan. Namun, bila terasa panas, apalagi sakit di ujung jari, maka itulah jenis badik pembunuh..

Badik biasanya dipegang dengan kedua tangan dalam posisi horizontal. Tangan kiri memegang bilah sarung, dan tangan erat menggemgam hulu badik, siap mencabut.

Cara menarik & memegang badik seperti ini menandakan kalau orang yang memegangnya paham filosofi penggunaan badik. Bagi orang bugis, menghunus badik dari sarungnya hanya boleh dalam keadaan feurce major. Keadaan yang dianggap diluar kuasa pemegang badiknya. Bila lawan tidak lagi memberikan peluang untuk berdamai. Sebab sekali badik keluar dari sarungnya, pantang disarungkan kembali sebelum berlumur darah.

Setiap lelaki bugis yang telah akil baliq dipastikan memiliki/menyimpan benda tajam ini. Dalam perkembangannya kawali lebih sebagai simbol penegak harga diri, menegaskan keberanian & sikap tanggungjawab dalam membela kehormatan. Dikalangan bangsawan, kawali juga sekaligus berfungsi sebagai simbol kekuasaan. Pada umumnya, badik digunakan untuk membela diri dalam menegakkan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya Siri’ dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep Siri’ ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: